0

Ayahku Seorang Pahlawan!

Namaku Zia. Aku tinggal di desa, tapi aku merasa iri kepada teman-temanku karena setiap pekan mereka selalu pergi ke kota bersama orang tua mereka, tapi aku tek pernah sekali pun meninggalkan desa ini, memang biaya yang dikeluarkan untuk pergi ke kota lumayan besar, sedangkan ayah hanya seorang petani. Ibuku sudah meninggal saat aku masih berusia 2 tahun, dan sekarang aku hanya tinggal bersama ayahku.

Tapi sebernarnya aku juga senang tidak meninggalkan desa, itu karena keajaiban telah datang didesa kami sejak beberapa tahun silam. Seluruh anak didesaku bisa membekukan air. Tapi hanya beberapa orang anak yang diberi kesempatan istimewa itu, aku tak tau kenapa aku bisa melakukan itu tapi aku seperti diberi kesempatan untuk mengendalikan kekuatan itu, menurutku aku bisa pergi kemana saja dengan mengandalkan es. Dan ada satu lagi keajaiban yang terdapat di desaku, suhunya setara dengan dinginnya kutub, oleh sebab itu aku dan seluruh warga desa sudah terbiasa dengan suhu yang sangat dingin. Awalnya aku sangat takut mendapat keajaiban itu, tapi ternyata tak seburuk yang ku pikir, begini awalnya.

Aku terbangun dari ranjangku yang mulai membeku, udara di pagi itu benar-benar seperti menusuk tulang-tulang di dalam tubuhku dan seakan darahku membeku. Suhu pagi itu tak biasa. Sebenarnya aku masih bisa menahan keadaan itu, tapi kenapa tiba-tiba aku seperti tak biasa dengan udara yang dingin, ayah yang melihat kondisiku langsung mengambil se ember air panas, dan menyuruhku untuk mandi menggunakan itu. Aku mematuhi itu. Tapi sama saja setelah selesai mandi aku tetap menggigil kedinginan, ayah bingung melihatku dengan kondisi yang parah seperti itu, ia menyentuh keningku, tapi ia langsung melepas tangannya dari keningku karena terkejut, tubuhku panas sekali, ia menggendongku di punggungnya dan membawaku menuju klinik terdekat tanpa membawa apa-apa, dan tanpa mengenakan alas kakinya.

“Ayahku hebat sekali, aku sangat menyayanginya.”

Sesampainya di klinik. Aku langsung dibawa ke ruangan pemeriksaan dan di periksa oleh seorang ibu. Tapi setelah selesai diperiksa, seorang ibu itu memberi tau kepada ayah.

“Pak, kondisi anakmu ini baik-baik saja, tak demam, tak ada panas sama sekali. Mungkin ia memiliki keajaiban di desa kita, coba saya ambil air sebentar ya.” ucap ibu itu. Lalu pergi mengambil air.

Aku menatap ayah dengan perasaan yang sangat senang, sementara itu ayah memegang keningku lagi, aku melihat senyumnya mulai mengembang, ibu itu datang dengan membawa secangkir air lalu dengan sengaja ia menumpahkan air, dan spontan aku langsung mengarahkan jari-jari tanganku ke arah air yang tumpah, seketika air itu berhenti jatuh, dan membeku, di udara. Aku sangat terkejut, begitu juga dengan ayah. Tapi perasaan senang juga turut menyelimutiku.

Berhari-hari aku bisa melakukan iu, dan aku bisa membuat es di rumput, dan untuk minum air yang dingin. Menurutku aku sangat beruntung, tapi aku masih ingin satu hal, yaitu ingin melihat bagaimana indahnya kota, dan hangatnya disana aku inginkan itu, akhirnya aku dan ayah memutuskan untuk menabung dari hasil bertani ayah, berbulan bulan aku dan ayah menabung tapi hasilnya masih tak cukup untuk tinggal, makan dan modal berdagang, tak mungkin cukup. Ya! Pekerjaan ayah memang tak seberapa tapi ia hanya mengharapkan kebahagiaan. Ayahku adalah seorang pekerja keras, ayahku tak kenal lelah, selesai bertani ia pulang dan menjagaku, ia berjanji padaku satu hari nanti, aku dan ayah akan tinggal di kota, dan akan aku buktikan seberapa hebatnya ayahku.

 

 

love 3

6

Rumah Impian Aira Part 2

home          Pagi hari Aira bangun dengan wajah yang lesu karena kejadian yang telah menimpanya kemarin, tapi ibu mencoba untuk menenangkan Aira yang tengah larut dalam kesedihannya. “Tenang.. ini semua cobaan dari yang maha kuasa sayang..“ Ucap ibu sedih, sebenarnya ibu terpukul dengan kejadian itu tapi ibu mencoba tegar dan ikhlas.

 

“Tapi bu impian Aira sudah lenyap :(“ Jawab Aira lirih. Melihat itu ibu langsung duduk dan membelai rambut anak semata wayangnya itu. “Tidak nak.. bukan seperti itu, impian mu itu masih ada kita akan mulai dari awal lagi ya…, sekarang kamu mau ikut ibu bekerja, cuaca hari ini sangat mendukung loh… :)” Ibu mencoba menenangkan Aira. Saat mendengar kata-kata itu Aira langsung memeluk dan mencium pipi ibu lalu berlari mengambil handuknya. (Aira ingin mandi)

 

Keesokan harinya, hari ini Aira sangat senang karena penghasilan kemarin cukup untuk membeli tabungan dan cukup untuk makan malam, hari ini Aira akan membantu ibu bekerja lagi karena ia akan menyinari kembali impiannya. Setelah sarapan Ibu dan Aira segera bersiap untuk bekerja, setelah semua selesai mereka langsung beranjak dari rumah kecilnya.

 

“Tok.. tok.. tok.. permisi bu..” Ucap ibu sambil mengetuk pintu, lalu menunggu sampai pintu dibuka. Tidak lama kemudian keluar seorang remaja wanita yang ramburnya acak-acakan dan masih memakai baju tidurnya padahal sekarang sudah jam 09.00 WIB. “Haduh!! Pagi-pagi udah ganggu aja, kenapa mau minjam uang lagi ”Ucapnya dengan mata yang belum terbuka sempurna.

 

“Emm.. Bukan saya tukang cuci keliling mama kamu yang pesan.” Ucap ibu ramah. “Hah! Sebentar” Ia pergi menuju kamar lalu kembali lagi dengan tampilan yang sama tetapi ia menambahkan kaca mata nya. “Oh kirain ada orang miskin yang mau minjam uang, setiap hari soalnya selalu datang, cepat masuk cuci baju dan piring, soalnya mama ku sedang pergi belanja” Dengan sombongnya anak remaja itu masuk dengan santainya.

 

Ibu dan Aira masuk perlahan menuju dapur lalu segera mencuci baju dan mencuci piring. “Ibu sepertinya kakak yang tadi tidak suka melihat kita? Dia juga kelihatan tidak sopan ” Aira merasa tersinggung. “ Ssst.. “ Ibu hanya menjawab itu karena ibu tau anak remaja itu tengah mengawasi mereka dibelakang bersama adik perempuannya, sepertinya mereka kembar. Saat mendengar itu kakak dan adik itu langsung pergi meninggalkan ibu dan Aira di dapur.

 

Tidak lama kemudian pemilik rumah datang dan melihat pekerjaan yang dilakukan ibu dan Aira lalu kembali setelah meletakkan sayuran di kulkas. Kedua kakak dan adik itu datang menghampiri Aira yang sedang mencuci piring lalu mereka sengaja menjatuhkan 2 piring ke lantai lalu berteriak memanggil mama nya, ibu langsung kebingungan membereskan pecahan piring-piring yang berserakan tangan ibu sampai mengeluarkan darah yang terus mengalir deras.

 

Kedua kakak dan adik itu datang bersama mamanya lalu menceritakan Aira telah memecahkan dua piring ke lantai dengan sengaja lalu ibunya membuat tangannya berdarah agar tampak dikasihani. Mendengar itu ibu langsung memarahi keduanya lalu mengatakan yang sejujurnya tapi pemilik rumah malah membela kedua anaknya dan memarahi ibu dan Aira lalu mengusir ibu dan Aira. “Pokoknya aku tidak akan memanggil kalian lagi aku sudah tidak percaya lagi sudah berbuat salah malah mau menuduh anakku dan berbohong pergi kalian!!” begitu katanya sebelum ia meninggalkan dapur.

 

Sebelum pergi ibu dan Aira membereskan semuanya dihadapan kedua kakak dan adik tersebut, tapi mereka hanya tertawa terbahak-bahak, karena tidak tahan Aira maju dan ingin memarahi kakak itu tapi ibu segera menarik tangan Aira lalu mengajak Aira pergi.Sejenak Aira menoleh kebelakang tampak kedua kakak itu masih tertawa melihat Aira dan ibu pergi tanpa mendapatkan apa-apa. Saat sedang di pertengahan jalan. “Ibu tangan ibu berdarah kita pulang saja ya” Ucap Aira sedih. “Iya tapi setelah itu kita lanjut lagi ya kerjanya”. Aira diam tidak menjawab hingga mereka sampai di rumah lalu Aira membantu ibu mengobati tangan ibu yang berdarah.

“Tapi bu… Tangan ibu kan belum sembuh kalau kita langsung mencuci nanti luka nya perih…”.

“Tidak apa-apa ibu kan kuat kalau kita hari ini tidak lanjut bekerja bagaimana kita mau beli rumah?, sudah ya mari kita lanjut bekerja”

“Tapi bu..” Ucapan Aira terpotong.

“Ibu tidak apa-apa sayang, ayo :)”

Akhirnya ibu dan Aira pergi walaupun Aira masih menghawatirkan ibu dengan kondisi ibu sekarang. “ Ibu.. Aira minta maaf ya karena gara-gara Aira ibu jadi dimarahi dan tangani bu berdarah :(”

“ Ah… Tidak ibu Cuma berpesan Aira jangan seperti itu ya.. karena kita tidak boleh berbohong dan membuat kesaksian yang palsu, sekarang ibu merasa lebih baik, ayo kita lanjutkan.”

***

Rumah Impian Aira part 3 menyusul ya..:-)

 

16

Rumah Impian Aira

home

Rumah Impian. Gambar oleh Muammar Fuadi

Pagi ini Aira bangun dengan semangat yang membara-bara, tapi sayangnya hari ini hujan turun dengan lebat Aira tidak bisa pergi membantu ibu bekerja. “Aira hari ini kamu tidak usah ikut ibu ya.. Hari ini hujan, jadi kamu tidak bisa ikut “ Ucap ibu sambil berdiri di pintu kamar Aira.mendengar itu Aira hanya mengangguk pelan dengat raut wajah yang tidak enak dipandang, ibu langsung duduk di samping Aira dan membelai rambut  Aira, lalu ibu pergi menuju dapur.

Aira adalah seorang anak yang tidak bersekolah di umur nya yang sekarang yaitu 6 tahun, karena ia hanya tinggal bersama ibunya yang hanya bekerja sebagai tukang cuci keliling, kebutuhan keluarga pun pastinya sedikit, Aira juga biasanya membantu ibu bekerja. Aira mempunyai cita-cita yang sangat diidamkannya yaitu ia ingin mempunyai rumah yang besar, ia sudah pernah bilang pada ibu, ibu bilangkalau begitu kita harus rajin menabung, tabungan itu disimpan di lemari kamar Aira tapi isinya masih sedikit, isinya pun hanya uang logam.

Ibu kembali membawa saraapan untuk Aira. “Aira kamu marah ya karena kamu gak bisa pergi? ” Aira tidak menjawab, ia hanya fokus dengan sarapannya. Ibu mengulangi pertanyan ibu dua kali, Aira masih tidak menjawab. “Baiklah, ibu pergi ya..”  Ucap ibu, lalu pergi meninggalkan Aira.Setelah selesai sarapan Aira pergi menuju dapur untuk mencuci pringnya tapi tiba-tiba “Sini biar ibu saja yang cuci piringnya J”  Ibu langsung mengambil piringnya dari tangan Aira, mendengar itu Aira terkejut ia pikir ibu pergi bekerja ternyata ibu tidak tega melihat Aira sendirian di rumah.

Aira langsung memeluk ibu dengan erat “Ibu kalau hujan nya sudah reda kita bekerja lagi ya, agar tabungan kita penuh dan bisa beli rumah impian kita” Ucap Aira. Hari demi hari berlalu, saat Aira pergi bermain, ia berjumpa seorang kakak yang memberi Aira kertas, kakak itu bilang kertas itu harus diisi jadi Aira membawa kertas itu pulang dan menyuruh ibu untuk mengisinya, tapi betapa terkejutnya ibu saat melihat itu adalah undian pilih rumah impian, ibu dan Aira langsung mengisi formulir undian itu lalu memberikan formulir itu kembali.

Keesokan harinya kakak yang kemarin memberikan formulir itu kepada Aira datang ke rumah Aira dan banyak memberikan gambar rumah-rumah yang harus dipilih oleh ibu dan Aira, tidak terlalu lama mereka memilih gambar rumah, setelah selesai memilih gambar rumah ternyata ibu harus membayar Rp.2.000.000 ibu menerima tawaran itu, rumah itu akan diberikan dua hari lagi, uangnya juga akan diberikan saat rumah itu sudah menjadi milik Aira dan ibu.

Dua hari kemudian… Hari ini ibu sudah membayar duajuta yang dijanjikan tapi kenapa rumahnya belum diberi juga, menunggu hingga malam di depan handphone, tapi tak ada yang menelfon, padahal ibu sudah menjual sedikit benda-benda yang ada di rumah, besoknya Aira dan ibu tertipu padahal Aira sudah sangat senang, mulai sekarang ibu dan Aira akan memulai semuanya dari awal.

2

Misteri Hilangnya Semua Benda

       “Hei! Teman-teman denger nih! Buku tabungan punya  Putri hilang ”Seru Fathir sang ketua kelas. ”Apa!  kok bisa hilang, ayo… ngaku siapa yang ngambil, kasihan tau si Putri, dia gak tau sekarang nabungnya sampai berapa.”Sambung Ifah.”Ifah gimana nih buku tabungan saya…”Ucap Putri takut.”Tenang Put… kami pasti akan bantu nyari.” Kata Naura menenangkan.

       Aneh sekali belakangan ini di kelas 6 banyak sekali benda yang hilang, termasuk buku tabungan Putri benda yang hilang juga ada 3 buku cerita, uang, 2 pensil,1 Pulpen, karena penasaran Aqila ingin sekali mencari tau siapa sebenarnya yang mencuri benda yang ada dikelas 6, saat waktu istirahat tiba ia sudah memikirkan rencana nya dengan sangat matang karena ia akan mencobanya besok, ia juga izin kepada ketua kelas. ”Fathir saya ingin mencari tau siapa yang mencuri benda dikelas kita, boleh ya… ”Mohon Aqila.Fathir sempat terdiam sejenak. ”Boleh tapi harus tetap hati-hati ya karena bisa dibilang berbahaya” Ucap Fathir.

       Mendengar itu,  Aqila sangat senang.Hingga keesokan harinya saat pelajaran terakhir, Aqila telah mempersiapkan semua peralatannya seperti pulpen,uang,buku, dan Qur’an.Saat waktunya tiba ia hanya harus menunggu semua orang pulang dari sekolah termasuk menunggu tukang sapu, jika diperkirakan ia akan mulai pukul 07.30 dan pulang pukul 08.00, ia pun sudah izin dengan orang tuanya.Saat jarum jam sudah menunjukkan angka 07.30 ia langsung mengeluarkan alat yang sudah ia bawa, Qur’an diletakkan nya di laci Putri, pulpen dan pensil di laci Naura, uang di laci Farah, dan 3 buku lagi diletakkan di laci Fathir, Hafiz, dan Sayyid.

       Setelah selesai ia hanya harus memasang kamera pengawas di balik lemari, kelompok sains yang membuatnya yaitu Aliyyah, Fatimah,  Amir, dan Ayyasi.Kamera pengawas itu ada 4 masing-masing ada yang dibalik lemari dan ada yang di pojok atas ruangan, dan tugasnya sekarang harus mengamati kejadian itu dari layar gadget, dan mengunci pintu kelas, saat menuruni anak tangga serasa jantung Aqila berdebar kuat, sambil melihat ke arah gadgetnya dan tanggannya pun berkeringat dingin, ia sangat takut karena di tannga itu sama sekali tidak ada lampu, saat ia melihat gadgetnya ia sangat terkejut melihat gadgetnya samar-samar seperti ada yang merusak kamera pengawas yang pertama di pasang di balik lemari ia sangat takut, belum sempat ia memakai sepatunya Aqila nekat naik keatas demi semua orang yang kehilangan benda nya, saat membuka pintu kelas dengan tangan yang masih gemetar, dan berkeringat ia cepat memutar kunci hingga ia melihat seorang perempuan yang memakai baju putih, rok hitam, rambut panjang tetapi kusut, tubuh pucat, dan berdarah-darah.

       Melihat itu Aqila sangat terkejut dan hampir pingsan ia ingin lari tapi ia ingat itu adalahke putusannya sendiri, ia berhenti dan bertekat akan berani, segera ia menoleh ke belakang ternyata perempuan itu masih ada dengan jantung berdebar kencang ia berani mengatakan “Maaf siapa anda, mengapa kamu berada di sini, dari mana kamu masuk bukankah pintunya di kunci? ”ucap Aqila gemetar.

       Perempuan itu tidak menjawab sama sekali ia hanya berdiri menghadap kaca dan menangis, Aqila mengulangi petanyaannya 3 kali perempuan itu tetap berdiri dan menangis sambil memandang kaca karena tak tahan akhir nya perempuan itu pun menjawab pertanyaan Aqila, “Aku adalah hantu yang gelisah semenjak sekolah ini dibangun, aku disini karena ingin mengganggu semua orang yang ada di sini dan dari awal aku memang sudah ada disini sejak pagi! ” Jawab hantu itu ketus.

       ”Maaf kalau lancang mengapa kau menangis? “ Tanya Aqila lagi. Mereka berjarak sangat dekat, “Aku menangis karena wajah ku sangat buruk karena dulu sekolah ini adalah rumah sakit aku adalah salah satu orang yang menjadi eksperimen dokter dan mayat diriku tidak dibuang aku sangat sedih karena dulu ini adalah kamar ku aku menggangu kalian karena kalian menggunakan kelas ini dengan sembarangan itu sebabnya aku marah, tapi aku minta maaf ya, ini benda yang kucuri…” jelas hantu itu panjang lebar.

Keesokan harinya banyak sekali yang berterima kasih kepada Aqila ia juga menceritakan semua yang ia alami cerita itu telah menjadi peristiwa yang menarik baginya dan anak-anak kelas 6 sudah lebih menghormati hantu perempuan itu dan sekarang hantu itu telah hidup dengan tenang dan senang.

6

Gara-Gara Surat Rahasia

 

b6b91185-d2d1-48cd-84bf-23c6b99bc852

Pagi ini Ulfah datang ke sekolah dengan wajah yang tak biasa, wajahnya lesu karena tadi malam ia tidur pukul 11.15 karena, Ulfah dan Ammar bermain dan tertawa dulu sebelum tidur. Itu sebabnya Ulfah mengantuk, padahal udara masih segar. Tidak lama kemudian semua teman-teman mulai datang semua asyik berbincang bersama sebelum baris. Setelah baris harus mulai belajar lagi sampai pukul 11.30 capek dan bosan, namun mau gak mau harus di fahami juga.Saat istirahat tiba, semua murid kelas enam keluar kelas dan menuju toilet untuk berwudhu. Setelah itu, sholat dhuha lalu makan.  Saat makan, ketua kelas kami berteriak kepada semua anak perempuan.

“Eh! Nanti pulang sekolah kalian semua  sapu kelas.”

“Enak aja nyuruh-nyuruh kami gak mau,”Jawab Fahimah.

“Oh.. gak mau ya atau saya dan semua anak laki-laki akan tempel surat ini di mading!” Ancam Fikri.

“Memangnya itu surat apa?” Tanya Mailan penasaran.

“Ini surat isinya tentang semua rahasia kalian yang jatuh karena semalam Farah lari-lari, semalam pasti Farah yang megang surat ini, iya kan?”

“Eh iya tapi..”Semua perempuan bingung, apa yang Fikri itu bilang benar atau cuma iseng.Tiba-tiba Farah datang, semuanya sibuk menanyakan tentang surat rahasia itu.Ternyata benar Farah bilang suratnya diambil dan kalau ketahuan pasti bahaya.Akhirnya pulang sekolah semua perempuan menyapu kelas dengan terpaksa.

“Oh iya tadi kata Fikri kalau besok kalian semua nakal, surat itu akan di laporkan ke kantor kepala sekolah,” Ucap Sayyid yang langsung pergi keluar kelas.

Saat Sayyid mulai pergi semuanya meluapkan kekesalan dan kebencian pada Fikri karena Fikri memanfaatkan surat itu untuk mengatur-atur semua anak perempuan di kelas 6-A itu.

 

Hari demi hari berlalu semua nya sudah capek diatur-atur seperti harus membuat prakarya yang cantik selama satu hari. Lalu dibuang ke parit. Anak perempuan harus membuat semua anak laki-laki senang selama tiga hari dan yang paling parah harus menuruti permintaan apa aja selama satu minggu. Semua harus dilakukan walaupun terlalu berat, karena kalau melawan surat itu langsung dilaporin. Akhirnya kami pura-pura lupa tentang surat itu dan menganggap semuanya sudah selesai.

Semua anak perempuan menyadari, dulu mereka semua sering bermain bersama tapi sejak surat itu ketahuan semuanya seperti terpecah belah. Apalagi mereka semua sebentar lagi sudah mau SMP. Jadi sekolahnya pasti pisah-pisah. Aku dan teman-teman tidak mau terus seperti ini. Lalu memutuskan membuat sepucuk surat damai dan permohonan maaf juga mengajak anak-laki-laki bermain bersama lagi.

Setelah surat itu diberikan anak laki-laki berunding lalu menjawab, “Iya sebenarnya kami pun gak mau lapor atau nempel surat ini di mading (Hehehehe) Sorry!.” Mendengar itu, aku dan teman-teman marah tapi kami juga mencoba sabar, karena mereka semua suka bercanda tapi terlalu berlebihan.Tentang ajakan bermain itu mereka malah bilang “Nanti ya…Rabu rawit nanti.”

Akhirnya semua murid kelas 6-A saling meminta maaf dan berdamai… Oh senangnya bisa bermain bersama semuanya.

img_20170211_195407

 

2

Siapa Dia Sebenarnya???

6e93e29d-e9d6-4396-ac9d-8c0e0de21b70

Malam hari Qia, Anita, Silvi, dan Aya sedang berjaga malam di depan pagar asrama putri, karena setiap malam selasa mereka piket. Mereka akan memulai piket dari pukul 09.00 malam sampai pukul 01.00 pagi. Cukup lama ya! Piket adalah saat yang pasti menyenangkan dan juga menyeramkan… Pihak Asrama membuat piket malam agar para putri-putri mempunyai sifat berani dan tidak lemah.

Saat sedang berjaga, tiba-tiba datang seorang nenek yang menanyakan alamat seseorang. Tentu saja Qia, Anita, dan Aya kebingungan karena kurang mengetahui daerah Asrama mereka. Tetapi tidak dengan Silvi, ia sangat paham dengan jalan di sekitar Asrama itu. Silvi dengan  sigap langsung bertanya kepada sang nenek.

“Nek, memangnya nenek mau kemana?” tanya Silvi ramah.

”Nenek mau ke Jalan Kesatuan Gang Damai di dekat kuburan itu nak. Karena sudah malam, nenek sulit melihat jalan. Apakah kalian mau mengantarkan nenek?”. Ucap nenek.

“Baiklah nek aku dan Silvi akan mengantar nenek,” Ucap Aya mencampuri.

Ayah dan Silvi saling pandnag. Akhirnya mereka berdua bersedia untuk  mengantar nenek. Lalu, Anita dan Qia yang akan menjaga Asrama. Karena sudah Pukul 10.30 malam, Aya dan Silvi segera cepat mengantar nenek.

Saat di Perjalanan…

“Nah nek sudah sampai nih di depan gang,” Ucap Silvi.

Mendengar itu nenek hanya mengangguk dan tersenyum sekilas.Tiba-tiba petir datang secara cepat dan itu sangat membuat  Aya dan Silvi terkejut.  Begitu juga dengan nenek. Dia terkejut seakan mau copot jantungnya!

“Sepertinya hujan akan turun deras. Sebaiknya kalian menunggu di rumah nenek sampai hujannya reda,”Ucap nenek menawarkan mereka.

Semakin lama rintik-rintik hujan turun, tanpa berpikir panjang mereka langsung menerima tawaran nenek. Tak lama nenek langsung menunjukkan rumahnya. Betapa terkejutnya mereka saat jari telunjuk nenek mengarah ke arah kuburan. Lalu…. Sang nenek tersenyum lebar hingga giginya kelihatan.

“Ayolah singgah ke rumah nenek! ”

“Ta.. Ta… Tapi… nek itu kan kuburan,” Ucap Aya takut.

“Sudah lah nak ayo ikut nenek nanti kalian sakit,” nenek mengulang ajakannya.

Karena terpaksa, mereka harus ikut. Nenek ternyata mengajak mereka ke sebuah rumah kecil. Rumah itu dipenuhi dengan banyak sekali tengkorak – tengkorak manusia yang berserakan. Hujan di luar rumah semakin deras. Untung saja di rumah nenek suhunya sangat hangat. Tetapi rumah itu sangat bau karena dipenuhi banyak tengkorak. Saat Aya dan Silvi masuk terlihat nenek membereskan kekacauan itu dan berusaha menyembunyikannya. Tetapi tetap saja  terlambat karena Aya dan Silvi sudah terlanjur melihatnya.

“Maaf nek ini.. kenapa nenek mengumpulkan banyak tengkorak manusia dirumah nenek? ” Silvi memberanikan dirinya untuk bertanta. Darrrr… Suara pertir bergelegar kembali.

“Ah… ini hanya buatan saja.” Ucap nenek.

Sementara Silvi dan nenek berbincang – bincang, Aya berusaha mencari tau tentang seluruh tengkorak itu, saking penasarannya ia berkeliling di dalam rumah nenek.

“Percuma saja bertanya, yang dijawab pasti bohong. Lebih baik akau cari tau sendiri mumpung nenek gak sadar.”

Ia berbicara dalam Batinnya.

 

Setelah lama berkeliling nenek memanggil Aya dan Silvi dan ternyata nenek telah memasak sup daging untuk Aya dan Silvi. Saat mangkuk sup diberikan, Aya merasa ada yang aneh dengan sup itu dan ia langsung menahan tangan Silvi yang hendak memasukkan sup itu ke mulutnya.

“Tunggu Silvi jangan dimakan!” Larang Aya tegas.

“Memangnya kenapa? Kelihatannya ini enak sekali. Apalagi kalau dimakan saat hujan dan saat perut keroncongan.”

“Dasar! Kau sama sekali tidak berpikir kalau daging ini adalah daging manusia!”

“Hah tapi dari mana kau tau?” Silvi mulai meremehkan Aya.

“Kau lihat ini tadi aku menemukan gigi di dalam dagingnya dan…” Aya mengambil mangkuk Silvi dan memeriksanya.

“Nah… coba kau lihat ini ada jari di sup mu”

“Wah benar menyeramkan sekali.”Ucap Silvi mulai Takut melihat jari di dalam mangkuk sup.

 

Setelah Aya dan Silvi berbincang lama mereka memutuskan  akan pulang saja karena takut terjadi apa-apa, lagi pula mereka baru sadar kalau jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.30. Bisa gawat kalau mereka telat kembali ke asrama.

 

Saat berada di depan pintu tiba-tiba nenek berdiri dihadapan mereka. Aya dan Silvi sangat terkerkejut dan heran dari tadi nenek pergi kemana.

“Mau kemana kalian?”Tanya nenek.

“Kami mau pulang nek, kan hujannya sudah reda.”

“Kalian mau  pulang begitu saja? Enak saja kalian sudah menumpang dirumahku dan sudah kuberikan sup, kalian pikir itu gratis!! Semuanya ada bayarannya!!!”

“Ta, ta… tapi nek apa bayarannya? Bukankah kami sudah mengantar nenek pulang,” Ucap Aya memberanikan diri. Tetapi Silvi malah menutup matanya dan tak berani melihat wajah sang nenek yang sedang marah.

“Hanya itu yang mau kalian bayar untuk semua yang kuberikan?”

Aya hanya mengangguk pelan.

“Dan apa kalian tau, bayarannya adalah… Nyawa kalian…!!”Ucap nenek sambil tersenyum pelan dan mulai mendekati mereka.

Mendengar itu Aya dan Silvi terekejut.

“Apa nyawa!!, Silvi lari!!!” Aya dan Silvi lari dengan cepat sambil berpegangan tangan, sementara nenek berteriak dan mengejar Aya dan Silvi. Mereka berlari sekencang-kencangnya hingga tak terkejar sang nenek.

 

Setelah berhasil melarikan diri dan sampai di depan gang, Aya melihat kuburan itu sebentar. Ternyata… Tulang dan daging itu berasal dari mayat-mayat yang ada di dalam makam-makam itu, Aya tau karena ada banyak bekas galian di beberapa makam.

Saat mereka sampai di Asrama Aya dan Silvi menceritakan kejadian yang mereka alami dan berpesan selalu berhati-hati jika mengalami kejadian yang serupa maupun yang tidak serupa. Jangan antar nenek-nenek ke kuburan itu lagi.

 

Tapi sebenarnya siapa nenek tua itu ya???

0

Siapa Dia??

 

 

Malam hari Qia, Anita, Silvi, dan Aya sedang berjaga malam di depan pagar asrama putri, karena setiap malam selasa mereka piket, itu artinya mereka akan mulai pukul 09.00 malam  sampai pukul 01.00 malam cukup lama ya! pasti menyenangkan dan juga Seram… Pihak Asrama membuat piket malam agar para putri-putri mempunyai sifat berani dan tidak lemah.Saat sedang berjaga tiba-tiba datang seorang nenek yang menanyakan alamat lantas saja Qia, Anita, dan Aya kebingungan karena kurang tau daerah Asrama mereka, tetapi tidak dengan Silvi ia sangat paham dengan jalan di sekitar Asrama itu dengan  sigap Silvi langsung bertanya.

“Nek, memangnya nenek mau kemana?” tanya Silvi ramah.

”Nenek mau ke Jln.Kesatuan Gg.Damai di dekat kuburan itu nak karena sudah malam nenek sulit melihat jalan, kalian mau mengantar nenek kan?”. Ucap nenek.

“Baiklah nek aku dan Silvi akan mengantar nenek”. Ucap Aya mencampuri.

Akhirnya Aya dan Silvi yang akan mengantar nenek lalu Anita dan Qia yang akan menjaga Asrama karena sudah Pukul 10.30 malam Aya dan Silvi segera cepat mengantar nenek.

Saat di Perjalanan…

“ Nah nek sudah sampai nih di depan gang ”. Ucap Silvi.

Mendengar itu nenek hanya mengangguk dan tersenyum sekilas.Tiba-tiba petir datang secara cepat dan itu sangat membuat  Aya dan Silvi terkejut begitu juga dengan nenek.

“Sepertinya hujan akan turun deras sebaiknya kalian menunggu dirumah nenek sampai hujan nya reda ”.Ucap nenek menawarkan mereka.

Semakin lama rintik-rintik hujan turun, tanpa berpikir panjang mereka langsung menerima tawaran nenek, tak lama nenek langsung menunjukkan rumah nya dan betapa terkejutnya mereka saat jari telunjuk nenek mengarah ke arah kuburan lalu sang nenek tersenyum lebar hingga giginya kelihatan.

“Ayo! ”

“Ta..Tapi nek itu kan kuburan” Ucap Aya takut.

“Sudah lah nak ayo ikut nenek nanti kalian sakit. ”

Karena terpaksa mereka harus ikut ternyata nenek mengajak mereka ke sebuah rumah kecil dan itu adalah rumah nenek, rumah itu dipenuhi dengan banyak sekali tengkorak – tengkorak manusia yang berserakan hujan diluar semakin deras untung saja dirumah nenek suhunya sangat hangat tapi rumah itu sangat bau karena dipenuhi banyak tengkorak, saat Aya dan Silvi masuk terlihat nenek membereskan kekacauan itu dan berusaha menyembunyikannya tapi tetap saja itu terlambat karena Aya dan Silvi sudah terlanjur melihatnya.

“Maaf nek ini.. kenapa nenek mengumpulkan banyak tengkorak manusia dirumah nenek? ” Silvi memberanikan dirinya.

“Ah… ini hanya buatan saja.” Ucap nenek.

Sementara Silvi dan nenek berbincang – bincang, Aya berusaha mencari tau tentang seluruh tengkorak itu, saking penasarannya ia berkeliling di dalam rumah nenek.

Percuma saja bertanya yang dijawab pasti bohong lebih baik akau cari tau sendiri mumpung nenek gak sadar

Batinnya.

 

Setelah lama berkeliling nenek memanggil Aya dan Silvi ternyata nenek telah memasak sup daging untuk Aya dan Silvi, tapi saat mangkuk sup diberikan Aya merasa ada yang aneh dengan sup itu ia langsung menahan tangan Silvi yang hendak memasukkan sup itu ke mulutnya.

“Tunggu Silvi jangan dimakan !” Larang Aya tegas.

“Memangnya kenapa? Kelihatannya ini enak apa lagi kalau dimakan saat hujan dan saat perut keroncongan.”

“Dasar! Kau sama sekali tidak berpikir kalau daging ini adalah daging manusia !”

“Hah tapi dari mana kau tau?” Silvi mulai meremehkan Aya.

“Kau lihat ini tadi aku menemukan gigi di dalam dagingnya dan…” Aya mengambil mangkuk Silvi dan memeriksanya.

“Nah… coba kau lihat ini ada jari di sup mu”

“Wah benar menyeramkan sekali.”Ucap Silvi mulai Takut melihat jari di dalam mangkuk sup.

 

Setelah Aya dan Silvi berbincang lama mereka memutuskan mereka akan pulang saja karena takut terjadi apa-apa, lagi pula mereka baru sadar kalau jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.30, bisa gawat kalau mereka terlambat.

 

Saat Aya dan Silvi hendak keluar dari rumah nenek tiba-tiba nenek datang dan berada di hadapan mereka, mereka pun terkejut karena tidak mungkin nenek datang secara tiba-tiba .

“Kalian mau kemana?”Tanya nenek.

“Em.. Kami.. Mau pulang nek, karena sudah terlalu  larut.”

“Eh.. Enak saja kalian mau pulang begitu saja kalian pikir dengan adanya kalian disini, tidak ada bayarannya, kalian juga aku suguhkan sup.” Ucap nenek marah.

“Tapi nek.. Apa bayarannya?” Tanya Aya memberanikan diri, sementara Silvi tidak berani berbicara sepatah kata pun.

“Bayarannya adalah nyawa…”

“Apa! Nyawa, Silvi lari !!!”Teriak Aya.Nenek hampir menangkap Silvi, untung saja Aya cepat menarik tangan Silvi.Saat keluar dari gang Aya sempat melihat kuburan, ternyata daging, dan tulang itu nenek dapat dari mayat-mayat yang di makam kan di kuburan itu, Aya tau karena ada banyak bekas galian di beberapa makam.

 

Kali ini mereka berdua selamat setelah kembali ke asrama, Aya dan Silvi menceritakan semuanya kepada seluruh santri putri dan berpesan jika mereka berjaga malam harus lebih hati-hati.

0

Ummi Yang Sabar

“Umi makanan ini enak sekali,walaupun setiap hari kita makan sayur asem, tahu, tempe, tapi Zahra merasakan makan pagi ini sangat berbeda dengan sebelumnya.”ucap zahra

“Wah, Zahra kamu bisa saja,jadi menurut kamu masakkan umi sebelum nya tidak enak ya?”balas umi

“Tidak umi, masakkan umi sebelumnya sudah enak kok tapi, yang ini berbeda dari sebelumnya, yang ini lebih enak…”terang zahra

TAPI SEBELUMNYA…

Hai namaku Zahra, aku punya adik perempuan namanya Nanda, abiku sudah meninggal 3 tahun yang lalu, umiku bernama Marwah, aku tidak sekolah karena biaya yang kurang, kami tingal di desa, umurku 11 tahun, kalau adikku7 tahun, ya! Kalian pasti sudah tau makanan kami sehari-hari sayur asem, tahu dan tempe itu saja sudah istimewa bagiku.

“Nanda!! Cepat bangun dek…, sarapan dong…”ucap zahra tegas.

“iya kak sebentar Nanda kesana deh…”ucap Nanda malas

“Kakak dimana umi ,umi tidak kelihatan dari tadi?”tanya Nanda

“Umi pergi mencari keong ,agar bisa dijual ke pasar dan menghasilkan uang ,dan membeli makanan agar kita bisa makan ngerti gak?”ucap Zahra lembut.

“wah umi baik ya sama kita berarti, yang Nanda makan sekarang hasil dari jerih payah yang umi dapat.”ucap Nanda mengerti.

“ya benar itu, udah cepat makan agar bisa kakak cuci.”

AKHIRNYA UMI PUN PULANG….

“Eh umi sudah pulang, umi capek ya sini umi harus Nanda pijitin…”ucap Nanda kegirangan

“Nanda dimana kakakmu nak”tanya umi lembut

“Kak zahra ada di belakang dia sedang mencuci di dekat sumur tua itu mi’.”jelas Nanda

“Oh baiklah umi akan segera kesana”

“YA ALLAH,ZAHRA!!!!

Ternyata zahra terjatuh kedalam sumur, jelas saja umi sangat kaget umi langsung menarik zahra dan untung saja sumur itu tidak terlalu dalam tetapi keliatannya zahra sudah lemas sekali, umi berusaha keras menarik zahra, Nanda yang mendengar nya langsung menangis keras suasana di rumah itu semakin ribut sekali.

DUA HARI KEMUDIAN….

“LAILAHAILLALLAH…. LAILAHAILLALLAH…. “

Ternyata kak Zahra sudah dipanggil Allah SWT, saat itu umi sedang menagis memeluk foto Zahra, disamping umi terlihat zahra yang menagis mengingat kejadian-kejadian manis yang dialami oleh nya bersama kak Zahra.

Saat itu umi sedang menarik kak Zahra, kak Zahra sangat lemas, dan tanpa umi sadari ternyata kak Zahra hanya menyebut “kakak akan tunggu umi danNanda di surga ya…., ALLAHHUAKBAR!!!!.Dan kakak pun melemas umi menagis dan berusaha menarik kak Zahra…, begitu lah kejadian detik-detik kepergian “KAK ZAHRA”

Dua hari kemudian….

Seperti biasanya umi pergi mencari keong tetapi kali ini Nanda ikut bersama umi biasanya Nanda bersama almarhummah kak Zahra berdua dirumah tapi Nanda tidak mau dirumah…

Saat pulang, umi sanggat gembira karena hasil yang umi dapat kan sanggat memuaskan, Nanda pun ikut senang

“Nanda sayang, kali ini umi hanya membeli sayur kangkung dan ikan teri saja, tidak apa- apa ya..”

“Tidak apa-apa umi ini tetap spesial kok, tapi Nanda jadi rindu nih sama kak Zahra, kak Zahra kan belum pernah, merasakan makanan seenak ini mi’…”ucap Nanda pelan….

Umi terdiam sejenak…

“Insyaallah, kak zahra akan masuk surga, Nanda juga doakan kak zahra setiap solat ya nak…”nasehat umi

“pasti dong umi…”

KEESOKAN HARINYA…

Umi pergi terlalu pagi karena mau membeli sarapan untuk Nanda, tetapi sebelumnya umi harus menjual keong-keong terlebih dahulu.

Tapi sungguh malangnya,tiba di tempat pengambilan keong sang pemilik malah menggusir umi, ternyata sang pemilik tidak memperbolehkan umi karena sudah terlalu banyak orang ditempat itu, umi tidak mau berdebat karena tempat itu juga bukan milik umi,apalah daya yang umi miliki untuk kembali ke tempat itu, umi hanya bisa ber “ISTIGHFAR”

SAAT UMI PULANG…

Nanda hanya bisa menangis mendengar apa yang dialami umi, dan sekarang ia hanya bisa mengunjungi makam kakaknya, makam nya ada di belakang rumah kecil mereka itu.Saat Nanda melihat makam kakak nya ia hanya bisa bercerita…

“Kakak hari ini kakak pasti sudah makan, kakak makan apa di surga, hari ini umi diusir oleh pemilik kolam keong itu jadi sekarang Nanda belum makan, tapi kata umi itu hanya cobaan dari allah untuk kita, kakak Nanda masuk dulu ya…”ucap Nanda sedih

Malam hari nya, umi sibuk mencari apa yang bisa di makan, karena umi tidak mau putri nya itu kelaparan, tiba-tiba umi berlari menuju belakang rumah, Nanda pun mengikuti umi nya, ternyata umi melihat dari jendela dapur ada pokok ubi yang tumbuh mengitari makam kakak, umi dan Nanda yang melihat, sontak kaget dan menangis, jadi malam ini mereka memakan ubi dengan penuh rasa cinta dan penuh rasa kasih sayang seorang “IBU”

0

Putri Permen Karet

“Linda ayo cepat sarapan bunda mau pergi nih…” Ucap bunda dari lantai dua. ”Udah bun! Bunda pergi aja sana aku mau main nih jangan ganggu deh, aku capek…”jawabku dengan ketus sekali.Karena aku tidak suka kalau diatur atur sama bunda apalagi kalau disuruh makan aku malas makan!” yasudah bunda pergi ya bunda gak lama kok kan ada bibi kalau ada apa-apa bilang bibi aja ya” sepertinya bunda khawatir.Linda tidak menjawab apa-apa ,ternyata ia sibuk membereskan permen karet yang berserakan, memang Linda sangat suka permen karet semua ia suka tapi sebenarnya bunda melarangnya, tapi ia mengabaikan nya.

Aku cepat-cepat mandi setelah mandi aku memakai baju kaos tangan panjang dan jaket hitam, menyisir rambut, mengikatnya dan berseluncur di gagang tangga dengan memegang 7 permen karet ku aku berpamitan kepada bibi tapi sebelum itu Linda mengambil senter dan beberapa camilan. Belum sempat bibi menjawab aku sudah berada di garasi mengambil sepeda aku membuka satu permen karet ku sisanya kuletakkan di kantongku, aku mengayuh sepeda ku sanggat kencang,aku tahu hari ini hari libur sekolah tapi aku tetap ingin ke sekolah ada satu rahasia disana yang hanya aku, tuhan, dan alam yang tau sekolah ku tidak begitu jauh terletak di belakang komplek rumah ku.

Sesampainya di sekolah aku masih mengayuh sepedaku menuju belakang sekolah ada banyak rerumputan disana dan ditengah itu ada jalan setapak kecil tapi aku yakin pasti bisa jika dilalui dengan sepeda dengan berhati-hati aku melaluinya hingga sampai keujung jalan itu disana ada hutan yang sangat lebat, aku sering kesini didalamnya… indaah sekali dan diujung semua itu ada batu yang sangat besar dan tinggi jika aku naik kesana pasti akan terlihat seisi kota tapi aku belum pernah keatas batu itu sekaranglah kesempatanku untuk naik kesana aku sudah tidak sabar tapi juga harus cepat soalnya nanti bunda keburu pulang “Bunda pulang sekitar jam enam berarti aku harus pulang sebelum jam enam” Ucapku sambil melihat jam tanngan ku.Segera aku memarkirkan sepedaku didekat pepohonan yang lebat lalu mulai berjalan hingga sampailah di ujung hutan kepalaku mendonggak keatas melihat batu yang besar itu sudah ada dihadapanku tidak perlu lama-lama, aku langsung memanjat batu besar itu….

Bersambung ke Putri Permen Karet 2 ya…