4

Detik-Detik Menjelang UN (SD)

Rasanya sebentar lagi UN akan datang menjemput padahal dari diriku sendiri belum ada persiapan yang matang untuk melewatinya, membuka buku saja rasanya malasss sekali, apalagi datang ke sekolah untuk pengayaan UN, aku lebih memilih bersantai, menonton TV, bermain game, dan membuka blog (berharap ada yang suka, dan ada yang Komentar) sebenarnya di penghujung kelas 6 ini aku merasa lebih baik jalan-jalan keluar dari pada menghabiskan waktu di kamar sambil membuka-buka buku, tapi apa boleh buat, jika nanti nilai UN ku rendah “Hmmm….” Tanggung akibatnya sendiri.

 

Jujur, sekarang ini aku masih belum siap untuk menekan tombol mulai UN, dan tidak mungkin juga aku mencontek, atau membawa contekan ke sekolah, lagi pula tidak baik melakukan itu, lebih baik berusaha se-maksimal mungkin untuk mencapai nilai yang tinggi, lulus dengan nama baik, dan masuk ke sekolah SMP yang bagus. Aku juga harus siap menjalani perpisahan “Karena di Setiap Pertemuan pasti ada Perpisahan.”

Perpisahan

 

 

 

 

 

 

5

Masa Kecilku

coret bertiga

Dulu aku, Ammar, dan Salim sering coret-coret dinding rumah, ummi dan abi pusing karena hampir seluruh dinding rumah kami coret-coret, tpi menurutku kenapa malah memilih cat putih, biasanya aku menulis-nulis di dinding, Ammar menggambar, dan Salim mencoret, garis-garis yang banyak. Dan cara menghentikan itu semua, abi membeli banyak sekali kertas HVS/A4. Dan melarang untuk tidak boleh mencoret-coret dinding lagi. Memang benar, jika ada tamu yang datang ke rumah, apa tidak malu melihat rumah yang penuh coretan, tapi menurutku ummi malah senang dan bangga, karena itu bakat kami sudah diketahui sejak kecil, dan tinggal diasah saja, teman-teman ummi yang sering datang dan melihat kami, tertawa geli karena cerita ummi tentang kami.Oleh karena itu sampai sekarang banyak sekali kertas-kertas yang berserakan tidak  jelas. Walupun sudah SD tapi minat mencoret rumah masih ada di kepala kami bahkan sekarang Nada adikku yang paling kecil juga ikut serta. Tapi coret-coret sekarang hanya tulisan kecil-kecil saja misalnya kode-kode huruf… Untungnya sekarang cat dinding rumahku berwarna cokelat muda, jadi gak keliatan. Kembali ke Awal.Setelah pindah rumah, dinding kembali di cat dengan warna putih, dan kami tak pernah lagi mempunyai rumah yang ber-cat putih.  Rindu juga sih masa-masa kecil yang berharga dan bahagia yang menurutku langka.

Eh.. Tapi tunggu dulu kenapa kita jadi lari ke warna Cat ya???

(Ammar’s Creativity.WordPress.com)

2

Aku Hanya Ingin Ibuku Kembali Padaku

Didepan derasnya hujan, seorang anak perempuan ber bando coklat berdiri memandangi semua teman-temannya yang tengah asyik berkumpul di rumah seberang, sedang berlari-larian dan menikmati secangkir coklat panas tidak lupa dengan rotinya, tetapi ia hanya berdiri didepan kaca sambil ditemani boneka beruang yang ia miliki dan suara keras dari luar yang merupakan suara hujan. Sang ibu yang seharusnya sedang menghibur nya tidak akan pernah lagi ada bersamanya karena ibunya telah meninggal saat melahirkan seorang gadis kecil, gadis itu bernama Fani umurnya 5 tahun.

Sekarang ia tinggal bersama bibi nya yang serakah di rumah yang lebih dari cukup dari yang gadis kecil itu inginkan, sebenarnya ia ingin bergabung dengan teman-temannya tetapi ia merasa  dibenci oleh teman-temannya karena ia sering disakiti dan dikucilkan ia tidak tau kenapa. Dan kali ini ia hanya diam, sunyi, hening, membisu yang hanya didengar  hanya suara hujan, hujan, dan hujan, tetapi saat ini bibi sedang pergi, ia bebas melakukan apapun ia bisa saja mengundang teman-temannya tapi itu semua sangat mustahil. Gadis itu mencurah kan semua isi hatinya dengan bonekanya dan hujan yang turun begitu deras.

Tuhan kenapa hidupku harus seperti ini aku tak tahan tanpa ibu disampingku akau ingin seperti anak-anak lain yang rambutnya selau dibelai lembut, diceritakan kisah dongeng sebelum tidur, memasak bersama, bermain bersama, dan kecupan serta pelukan hangat apa lagi jika senyumannya terus melekat di wajahnya hanya itu yang ku mau hanya kehadiran ibu disetiap langkahku tolong kabul kanlah doa ku, aku benar-benar kesepian sekarang, kesepian tanpa ibu…”

Ucap Fani Sedih.

 

Hujan turun semakin deras aku yakin pasti bibi akan telat pulang begitu juga dengan anaknya yang sudah remaja bibi dikaruniai seorang putra dan seorang putri yang sudah beranjak remaja mereka hanya berselang 1 tahun setelah Putranya yang bernama Rizky lahir, 1 tahun kemudian lahirlah putrinya yang bernama Violet mereka adalah anak yang paling dimanjakan aku pun sangat sayang pada mereka, bang Rizky sering dipanggil “Ri” sedangkan kak Violet dipanggil “Vio” menurutku itu nama yang sangat bagus dan cocok untuk mereka.

 

2 jam berlalu dengan sangat cepat hujan sudah reda, tetapi matahari sudah hampir tenggelam bibi dan kedua anaknya belum juga pulang sementara perutku belum terisi apa-apa untuk hari ini, aku sering tidak makan karena bibi tidak mau memberiku apa lagi aku tidak boleh menyentuh makanan apa pun kecuali yang diberikan bibi.Tapi entah mengapa hari ini aku sangat lapar, aku mencoba untuk meminum lebih banyak air lagi agar tidak merasa lapar.Aku kembali menuju jendela lagi berharap bibi segera pulang dan membawakan ku makanan, tapi selalu saja pandangan ku tertuju pada rumah seberang, sekarang teman-temanku sudah pulang sekarang yang terlihat adalah rumah yang sangat berantakan dan ada wanita dewasa yang terlihat marah melihat kondisi rumah sedangkan seorang anak perempuan yang merupakan anak wanita tersebut tidak peduli ia hanya membereskan kekacauan yang ada.Walau tampak kasihan Fani sangat ingin dimarahi oleh ibu nya itu memang sangat aneh, karena setiap  anak pasti membenci itu tapi bagi Fani itu akan menjadi kerinduan tersendiri.

 

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.30 dan tiba-tiba saja bibi membuka pintu dengan keras, terlihat baju bibi yang sangat basah karena mungkin diluar masih gerimis.

”Aduh! Baju mahalku jadi basah ini semua karena hujan, akau benci hujan! ” ucap bibi kesal.

Hanya itu yang bibi ucap saat membuka pintu ia sama sekali tidak melirikku, aku berpikir sejenak mengapa bibi sangat membenci hujan? Padahal hujan itu adalah rahmat tidak mungkin bibi membenci hujan karena baju yang ia kenakan basah, entahlah aku tak mungkin akan menanyakan itu pada bibi, ia pasti akan marah mendengarnya , tidak lama kemudian datang bibi menghampiriku

“Kau lapar?” tanya bibi ketus

“Iya bibi aku lapar, apakah aku boleh makan malam ini ?” tanya ku kembali.Bibi melemparkan baju kotor yang ia pakai dari pagi.

“Kalau kau lapar cuci ini dulu setelah itu keringkan. Mengerti!” belum sempat aku menjawab tapi bibi sudah pergi meninggalkanku, aku yakin pasti bibi sangat lelah tapi, aku heran tadi bibi pergi kemana?

Fani tidak Terlalu memikirkannya. Ia langsung mencuci baju dengan semangat karena bajunya sedikit ia jadi sangat cepat menyelesaikannya tapi tiba-tiba datang kak Vio mendorong ember baju kotor berukuran besar dan berisi baju yang sangat banyak saking banyaknya bajunya sampai jatuh.”Nih cuci bajuku sudah seminggu belum dicuci setelah itu bersih kan kamarku, awas kau ya jika Jarum jam sudah di angka 09.30 baju-bajuku juga belum kering akan kuberi hukuman!” ucap kak Vio Ketus.Aku tidak menyadari kalau kak Vio Sudah pulang, aku segera menyelesaikan cuciannya lalu kukeringkan sebenarnya aku keberatan karena aku belum bisa makan, tapi Kakak sangat memerlukan bantuanku.

Pukul 09.30 bajunya sudah kukeringkan dan sekaligus ku setrika aku akan mengantarkan baju-baju ke  kamar bibi dan kamar kakak setelah itu aku akan membereskan kamar kakak jika tidak kakak akan marah padaku.Tidak terasa malam sudah semakin larut pekerjaanku sudah selesai aku pun sudah kenyang walau hanya diberi nasi dan kerupuk tapi itu saja sudah sangat enak bagiku.saat ingin menuju kamar tudurku tiba-tiba saja bibi menghalangiku jalan

“Mau kemana kau ?” tanya bibi keras

“Mau ke kamar bi, mau tidur” ucapku.

”Enak saja kau hanya boleh tidur kalau Abangmu sudah pulang dari kuliahnya sebelum itu kau jangan coba-coba untuk tidur atau…” bibi mengancamku lalu pergi meninggalkanku.

Aku langsung menuju ruang tamu berharap pintu terbuka dan bang Ri segera pulang, malam semakin larut aku pun sudah mengantuk tanpa sadar diri aku pun terlelap…

”Sayang bangun nak ibu sudah buatkan sarapan kesukaanmu hari ini, ayo nanti kau terlambat”. Seketika mataku terbuka terlihat seorang wanita cantik  yang rambutnya terikat dan memakai celemek putih.”Ibu?” ucapku heran. ”Iya sayang ini ibu ayo cepat bagun kau masih mimpi ya?”. Aku hanya menuruti kata Wanita itu, ia menarik tanganku menuju ke meja makan, aku hanya duduk tertegun melihatnya. Tidak lama Kemudian datang nasi goreng spesial dan segelas susu hangat disamping itu ada bekal dan tas kecil yang sudah selesai disusun rapi, wanita itu tersenyum manis padaku.”Ayo sayang apa yang kau tunggu, ayo makan setelah itu mandi ya ibu sudah siapkan tasmu juga” ucap wanita itu lembut, lalu ia mengecup keningku dengan penuh kasih sayang sebelum pergi meninggalkanku.

 

Aku sangat heran apakah itu ibuku? Atau bukan tapi itu sangat menyenangkan teryata itu rasanya mempunyai ibu tapi aku belum puas, segera kuhabiskan sarapanku lalu mandi tapi aku bingung akan mengenakan seragam apa, aku berpikir akan menuju kamar yang tadi aku tidur disana ternyata dugaanku benar seragamnya sudah tertata rapi diatas tempat tidur dan segera kukenakan, setelah itu aku  memakai bedak dan menyisir rambut kusendiri.Seketika aku terdiam, mengapa aku punya ibu bukankah ibu sudah… Entahlah, aku tidak mau terlalu pusing memikirkannya.

”Fani sayang, tunggu apalagi ayo kita berangkat sekolah, hari ini ibu yang akan mengantarmu ke sekolah karena pak Hadi tidak bisa datang hari ini ayo!”

Bersambung…HIJAB BOOK

0

Ayahku Seorang Pahlawan!

Namaku Zia. Aku tinggal di desa, tapi aku merasa iri kepada teman-temanku karena setiap pekan mereka selalu pergi ke kota bersama orang tua mereka, tapi aku tek pernah sekali pun meninggalkan desa ini, memang biaya yang dikeluarkan untuk pergi ke kota lumayan besar, sedangkan ayah hanya seorang petani. Ibuku sudah meninggal saat aku masih berusia 2 tahun, dan sekarang aku hanya tinggal bersama ayahku.

Tapi sebernarnya aku juga senang tidak meninggalkan desa, itu karena keajaiban telah datang didesa kami sejak beberapa tahun silam. Seluruh anak didesaku bisa membekukan air. Tapi hanya beberapa orang anak yang diberi kesempatan istimewa itu, aku tak tau kenapa aku bisa melakukan itu tapi aku seperti diberi kesempatan untuk mengendalikan kekuatan itu, menurutku aku bisa pergi kemana saja dengan mengandalkan es. Dan ada satu lagi keajaiban yang terdapat di desaku, suhunya setara dengan dinginnya kutub, oleh sebab itu aku dan seluruh warga desa sudah terbiasa dengan suhu yang sangat dingin. Awalnya aku sangat takut mendapat keajaiban itu, tapi ternyata tak seburuk yang ku pikir, begini awalnya.

Aku terbangun dari ranjangku yang mulai membeku, udara di pagi itu benar-benar seperti menusuk tulang-tulang di dalam tubuhku dan seakan darahku membeku. Suhu pagi itu tak biasa. Sebenarnya aku masih bisa menahan keadaan itu, tapi kenapa tiba-tiba aku seperti tak biasa dengan udara yang dingin, ayah yang melihat kondisiku langsung mengambil se ember air panas, dan menyuruhku untuk mandi menggunakan itu. Aku mematuhi itu. Tapi sama saja setelah selesai mandi aku tetap menggigil kedinginan, ayah bingung melihatku dengan kondisi yang parah seperti itu, ia menyentuh keningku, tapi ia langsung melepas tangannya dari keningku karena terkejut, tubuhku panas sekali, ia menggendongku di punggungnya dan membawaku menuju klinik terdekat tanpa membawa apa-apa, dan tanpa mengenakan alas kakinya.

“Ayahku hebat sekali, aku sangat menyayanginya.”

Sesampainya di klinik. Aku langsung dibawa ke ruangan pemeriksaan dan di periksa oleh seorang ibu. Tapi setelah selesai diperiksa, seorang ibu itu memberi tau kepada ayah.

“Pak, kondisi anakmu ini baik-baik saja, tak demam, tak ada panas sama sekali. Mungkin ia memiliki keajaiban di desa kita, coba saya ambil air sebentar ya.” ucap ibu itu. Lalu pergi mengambil air.

Aku menatap ayah dengan perasaan yang sangat senang, sementara itu ayah memegang keningku lagi, aku melihat senyumnya mulai mengembang, ibu itu datang dengan membawa secangkir air lalu dengan sengaja ia menumpahkan air, dan spontan aku langsung mengarahkan jari-jari tanganku ke arah air yang tumpah, seketika air itu berhenti jatuh, dan membeku, di udara. Aku sangat terkejut, begitu juga dengan ayah. Tapi perasaan senang juga turut menyelimutiku.

Berhari-hari aku bisa melakukan iu, dan aku bisa membuat es di rumput, dan untuk minum air yang dingin. Menurutku aku sangat beruntung, tapi aku masih ingin satu hal, yaitu ingin melihat bagaimana indahnya kota, dan hangatnya disana aku inginkan itu, akhirnya aku dan ayah memutuskan untuk menabung dari hasil bertani ayah, berbulan bulan aku dan ayah menabung tapi hasilnya masih tak cukup untuk tinggal, makan dan modal berdagang, tak mungkin cukup. Ya! Pekerjaan ayah memang tak seberapa tapi ia hanya mengharapkan kebahagiaan. Ayahku adalah seorang pekerja keras, ayahku tak kenal lelah, selesai bertani ia pulang dan menjagaku, ia berjanji padaku satu hari nanti, aku dan ayah akan tinggal di kota, dan akan aku buktikan seberapa hebatnya ayahku.

 

 

love 3

2

Kebersamaan

Hari ini ada bimbingan belajar tambahan atau (bimbel) tepatnya pelajaran bahasa indonesia, setelah selesai (Try Out) kami keluar kelas dan bermain bersama seperti biasa anak laki-laki bermain bola di teras kelas dan perempuan petak umpet, sebenarnya bola yang dipakai hanya bola plastik berwarna kuning yang berulang-ulang di tempel oleh selotip, karena sudah banyak guru yang marah kepada anak laki-laki karena mereka sering sekali bermain di saat pelajaran tiba, apalagi pelajaran itu adalah pelajaran Tahfidz Qur’an akibatnya bola itu di tusuk oleh beberapa pulpen guru, karena amarah yang tak bisa ditahan.

bola.PNG

          “Hmmm…” guru kami hanya bisa bergumam karena sudah tak tahan menceramahi kami. Tapi jangan salah kelas B lebih dari kami, mereka dijuluki sebagai kelas yang “LUAR BIASA” saking sholehnya sampai menjadi-jadi nakalnya.

          Kembali ke inti ceritanya, saat tengah asyik bermain tiba-tiba guru bimbel kami datang semuanya langsung masuk kedalam kelas karena kaget kami terjatuh di depan kelas karena tersandung oleh kaki yang lain, guru yang mengajar kami adalah guru kedua yang sangat ditakuti oleh murid-murid termasuk di kelas kami, pasti tak akan ada yang mau berbicara, walaupun hanya berbisik.

          Ya! Aku sangat senang saat-saat itu, tapi itu taka akan berlangsung lama karena waktu kami bersama hanya tinggal 1 bulan lagi ingatlah ini teman-teman.

 

“Teman-teman pasti kelas terasa kosong tanpa kalian

Suasana di teras kelas pasti sangat sepi nantinya

Kehebohan pasti tak akan datang lagi di balkon

Sejujurnya saya hanya tak ingin berpisah

Karena 6-Asy Syahid adalah kelas yang meninggalkan

aroma yang sedap untuk semua kelas

Karena kami Alumni 11”

2

Tolong Hargai Aku!!

Namaku Nadira. Dikelas aku dikenal sebagai seorang yang ceria, dan baik hati. Tapi walaupun begitu aku seperti tidak dianggap lagi, ketika aku memanggil nama salah seorang temanku, ia tak pernah menyahut kembali, sudah sangat sering aku mengalami kejadian seperti itu, dan ternyata sahabatku juga mengalami hal yang sama sepertiku.

“Mungkin ada yang salah dengan pendengaran mereka” ucap Mauli sahabatku dengan terisak-isak.

Ya! Pagi itu aku dan Mauli menangis, sebenarnya mereka anggap apa kami? Apa kesalahan yang telah kuperbuat terhadap mereka?” Tidak Ada!

“Ya! Itu benar, padahal aku sudah memanggil nama mereka hingga 10 kali sambil menepuk pelan pundaknya, dan berdiri tepat di belakangnya, apkah itu sengaja?” tangisanku dan Mauli semakin menjadi-jadi, kami tak terima deperlakukan seperti itu.

Padahal mereka masih mau bermain dan bercanda tawa padaku, tapi kenapa saat aku ingin berbicara sekalipun tak bisa! Apa aku ini hanya angin yang menumpang lewat di hadapan wajah mereka.” Heh.. Entahlah.

Aku dan Mauli kembali ke kelas kami duduk dengan tertib sambil menunggu kehadiran guru di pergantian mata pelajaran ini, dan ternyata hari itu juga Fira demam, sehingga semua perhatian dialihkan kepada Fira, sedangkan saat aku sakit seminggu yang lalu, seperti tak terjadi apa-apa. Aku tak bisa lagi menahan tangisku karena aku benar-benar iri melihatnya, aku sangat butuh perhatian dari teman sekelasku.

Fira diantar pulang kerumahnya, karena guru yang mengajar tidak hadir kami bisa bebas bermain di kelas sambil membaca buku, ups.. Maksudku bukan kami, tapi mereka, itu lebih pantas. Tapi ternyata ada yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal karena mendengar lelucon yang dibuat oleh Riri, semuanya memang tertawa tapi aku yang paling terdengar keras, karena menurutku itu sangat mengundang gelak tawaku.

Kupikir semuanya akan senang tapi mereka malah mengatakan.

“Ya ampun Nadira, baru selesai nangis langsung ketawa;b” ledek Lyra.

Semuanya tertawa, tapi aku langsung keluar diikuti dengan Mauli. Mauli mencoba menenangkanku, hingga aku selesai menangis. Kami kembali ke kelas, membaca buku mata pelajaran hari ini.

Berhari-hari aku tak dihargai untuk berbicara, hanya satu pesan penting dariku “Tolong hargai orang yang ingin berbicara, kerena ada waktunya kita didengarkan dan mendengarkan.”

Sekian…                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   Girl

Scratch